Jumat, 18 Januari 2013

psikologi

Pengertian dan Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahaan dari istilah “guidance” dan “conseling” dalam bahasa Inggris. Guidance berasal dari akar kata “guide” yang berati mengarahkan, memandu, menyetir, mengelola.
Pertama, bimbingan merupakan suatu proses yang mengadung makna bahwa bimbingan itu merupakan kegiatan yang berkesinambungan, berlangsung terus-menerus, bukan kegiatan seketika dan kebetulan.
Bimbingan merupakan serangkaian kegiatan yang sistematis dan terencana yang terarah kepada pencapaian tujuan.
Kedua, bimbingan merupakan “helping”, yang identik artinya dengan aiding, assisting, atau availing, yang artinya adalah bantuan atau pertolongan. Makna bantuan dalam bimbingan menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah siswa sendiri.
Ketiga, bantuan itu diberikan kepada individu. Individu yang diberi bantuan adalah individu yang sedang berkembang dengan segala keunikannya, yang mempertimbangkan keragaman keunikan individu.
Keempat, tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal. Perkembangan optimal yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar.
Perkembangan optimal bukanlah semata-mata pencapaian tingkat kemampuan intelektual yang tinggi, yang ditandai dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan, melainkan suatu kondisi dinamik dimana individu mampu mengenal dan memahami diri, dan sistem nilai, melakukan pilihan mengambil keputusan atas tanggung jawab sendiri.
Dalam hubungannya dalam bimbingan konseling merupakan salah satu jenis layanan bimbingan. Secara umum layanan bimbingan dan konseling adalah mambantu siswa mengenal bakat, minat, dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk meneruskan karier yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

B.     Fungsi Asas dan Prinsip Bimbingan
1.      Fungsi dan Bimbingan Konseling
a.       Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu siswa agar memiliki pemahaman terhadap diri dan lingkungannya.
b.      Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya pembimbing untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi, dan berupaya untuk mencegah supaya masalah itu tidak dialami siswa. Melalui fungsi ini, pembimbing atau guru pembimbing memberikan bimbingan kepada siswa tentang cara menghindari diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
c.       Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Pembimbingan dan personel sekolah sama dengan merumuskan dan melaksanakan program bimbingan yang sistematis, baik menyangkut aktivitas, maupun materi atau bahan bimbingan yang mendukung siswa dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
d.      Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif (penyembuhan). Teknik yang digunakan di sini adalah konseling (dilakukan oleh guru pembimbing atau konselor), dan remidial teaching (dilakukan oleh guru bidang studi).

2.      Asas-asas Bimbingan
Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Asas kerahasiaan, yaitu asas yang menuntut kerahasiaan segenap data atau keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan.
b.      Asas kesukarelaan, yaitu asas yang mengkehendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya.
c.       Asas keterbukaan, yaitu asas yang mengkehendaki agar perserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan keterbukaan peserta didik (klien).
d.      Asas kegiatan, yaitu asas yang mengekehendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan mau berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan.
e.       Asas kemandirian, yaitu asas yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu peserta didik, (klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri sebagaimana telah diutarakan terdahulu.
f.       Asas kekinian, yaitu asas yang mengkehendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang.
g.      Asas kedinamisan, yaitu asas yang mengkehendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (klien) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h.      Asas keterpaduan, yaitu asas yang mengekehendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun oleh pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadukan.
i.        Asas kenormatifan, yaitu asas yang mengkehendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan koneling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan bilai dan norma-norma yang ada, yaitu norma agama, hukum dan peraturan, adat-istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku.
j.        Asas keahlian, yaitu asas yang mengkehendaki agar layanan dan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.
k.      Asas ahli tangan, yaitu asas yang mengkehendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli.
l.        Asas tut wuri handayani, yaitu asas bimbingan dan konseling yang mengkehendaki agar pelayanan  bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangka keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju.

3.      Prinsip-prinsip Bimbingan
a.       Bimbingan diberikan kepada individu yang sedang berada dalam proses berkembang. Ini berarti bahwa bantuan yang diberikan kepada siswa harus bertolak dari perkembangan dan kebutuhan siswa.
b.      Bimbingan diperuntukkan bagi semua siswa. Bimbingan tidak hanya ditunjukkan kepada siswa yang bermasalah atau salah satu dari mereka, tetapi ditunjukkan kepada semua siswa. Prinsip ini mengadung arti bahwa pembimbing perlu memahami perkembangan dan kebutuhan siswa secara menyeluruh dan menjadikan perkembangan dan kebutuhan siswa tersebut sebagai salah satu dasar bagi penyusun program bimbingan di sekolah.
c.       Bimbingan dilaksanakan dengan mempedulikan semua segi perkembangan siswa. Prinsip ini mengandung arti bahwa dalam bimbingan semua segi perkembangan siswa, baik fisik, mental, sosial, emosional, maupun  moral-spiritual dipandang sebagai satu kesatuan dan saling berkaitan.
d.      Bimbingan berdasarkan kepada kemampuan individu untuk menentukan pilihan. Prinsip ini mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri yang akan dia lakukan.
e.       Bimbingan adalah bagian terpadu dari proses pendidikan. Proses bukanlah proses pengembangan aspek intelektual semata. Melainkan proses pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa.
f.       Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa merealisasikan dirinya. Prinsip ini mengandung makna bahwa bantuan di dalam proses bimbingan diarahkan untuk membantu siswa memahami dirinya, mengarahkan diri kepada tujuan yang realistik, dan mencapai tujuan yang realistik itu sesuai dengan kemampuan diri dan peluang yang diperoleh.

C.    Hubungan Bimbingan dengan Pendidikan
Bimbingan dipandang sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen-komponen lainnya. Di Indonesia perkembangan bimbingan dimulai dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah. Kurikulum 1975 dan 1976 merupakan wadah formal bagi pelaksanaan bimbingan dalam bimbingan pendidikan di sekoah.
Hubungan inilah bimbingan mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan,  yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal. Maka hasil pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik yang berkembang  baik secara akademik, psikologis, maupun sosial.

Kesimpulan
Bimbingan dapat diartikan sebagai proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal. Konseling merupakan salah satu jenis layanan bimbingan yang dipandang inti dari keseluruhan layanan bimbingan.
Bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu individu/peserta didik agar dapat mengembangkan kepribadiannya secara optimal yang penyelenggaraannya berdasarkan pada prinsip dan azas-azas. 
sumber : http://ikhsanu.blogspot.com/2012/09/hakikat-bimbingan-dan-konseling.html#axzz2IP2AcLuV  

Teori Kebutuhan Abraham Maslow

Teori Kebutuhan Abraham Maslow - Pras Personal Blog
Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. Lima tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan hidupnya, teori yang telah resmi di akui dalam dunia psikologi.
Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang akan muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi. Setiap orang pasti akan melalui tingkatan-tingkatan itu, dan dengan serius berusaha untuk memenuhinya, namun hanya sedikit yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dari piramida ini.
Lima tingkat kebutuhan dasar menurut teori Maslow adalah sebagai berikut (disusun dari yang paling rendah) :
1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : Memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Dalam kategori ini dibagi menjadi dua jenis, Eksternal dan Internal.
- Sub kategori eksternal meliputi : Pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
- Sedangkan sub kategori internal sudah lebih tinggi dari eskternal, pribadi tingkat ini tidak memerlukan pujian atau penghargaan dari orang lain untuk merasakan kepuasan dalam hidupnya.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga dimasukkannya cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya. 
Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic. Di mana Erikson dalam teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian kata yaitu :
(1) Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas. (2) Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.  
sumber : http://valmband.multiply.com/journal/item/5?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem


Tidak ada komentar:

Posting Komentar